Swara Pendidikan (Jepara) — Agung Prayitno, atau akrab disapa Mbah Agung, merupakan salah satu sosok guru inspiratif dari wilayah paling utara Jepara, tepatnya Donorojo, daerah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pati. Dengan perjalanan pengabdian lebih dari tiga dekade, ia menutup masa jabatannya sebagai guru dengan menerima SK Purna Tugas per 1 Desember 2025.
Karier Mbah Agung dimulai pada 1 Februari 1993 sebagai guru angkatan pertama yang ditugaskan di Pulau Karimun Jawa. Sebelum resmi diangkat menjadi ASN, ia lebih dahulu mengabdi sebagai tenaga honorer di satuan pendidikan. Ketegasannya dalam mendidik serta kedisiplinannya dalam mengajar membuatnya dikenal luas, hingga akhirnya dipercaya menjabat Kepala Sekolah SDN 2 Bandungharjo Donorojo.
SK Purna Tugas diterimanya dalam acara resmi di ruang Setda Jepara bersama 12 guru lainnya, 3 ASN Puskesmas, dan 1 tenaga dokter. Penyerahan dilakukan langsung oleh Ary Bachtiar, Setda Jepara, didampingi Florentina Budi Kurniawati, Asisten III Setda Jepara.
Dalam penuturannya, Mbah Agung mengenang perjalanan panjang yang ia mulai sejak 1992 ketika pertama kali ditugaskan di Karimun Jawa. Ia menjalani masa CPNS selama satu tahun hingga akhirnya diangkat sebagai PNS pada 1994.
“Guru adalah cita-cita saya dan kebanggaan tersendiri. Saya lahir dari rahim seorang guru. Orang tua kami dan para pendahulu adalah guru. Pada masa itu, menjadi guru sangat dihargai,” ungkapnya usai menerima SK Purna Tugas di Pendopo Jepara, Jumat (28/11/25).
Pengabdian di Pulau Terpencil
Ditugaskan bersama 35 guru lainnya, Mbah Agung memulai pengabdian dengan bekal ilmu, pengalaman, dan tekad kuat untuk mencerdaskan anak-anak di wilayah terpencil. Ia menceritakan bagaimana kedekatan dengan masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam menjalankan amanah.
“Melalui pendekatan dan berbaur dengan masyarakat, Alhamdulillah kami diterima dengan baik oleh warga Karimun Jawa,” tuturnya.
Mbah Agung juga mengenang betapa beratnya kondisi transportasi pada masa itu. Kapal kayu menjadi satu-satunya sarana menuju Karimun Jawa, membuat perjalanan sering kali penuh risiko.
“Kami pernah dua hari dua malam terombang-ambing di lautan. Pernah terdampar hingga Pekalongan, bahkan sampai Pulau Mandalika, padahal tujuan kami Karimun Jawa,” kenangnya sambil terkekeh-kekeh.
Saat ini, Karimun Jawa dapat ditempuh dengan kapal cepat hanya 2 jam atau kapal ferry 5 jam, sangat berbeda dengan situasi saat ia mengabdi di masa lalu.

Tumbuh Bersama Dunia Pendidikan
Lulusan pendidikan spesifik ini menghabiskan hidupnya untuk dunia pendidikan. Selain menjadi kepala sekolah di beberapa satuan pendidikan, ia juga beberapa kali dipercaya menjadi Plt kepala sekolah serta menjabat Ketua K3S Kecamatan Donorojo.
Mbah Agung menilai perkembangan teknologi saat ini membawa perubahan besar dalam budaya komunikasi antar guru. Diskusi tatap muka semakin jarang digelar karena digantikan oleh komunikasi via gawai.
“Ada norma dan etika yang tidak lagi terpenuhi ketika guru hanya mengandalkan komunikasi lewat HP atau laptop,” ujarnya.
Ia juga menyoroti kebijakan rekrutmen guru yang tidak selalu sesuai dengan kebutuhan sekolah.
“Sebagai kepala sekolah, kami tahu persis kekurangan dan kebutuhan guru sesuai spesifikasi. Namun kewenangan terbatas, sehingga hanya bisa menerima penempatan yang ada,” terangnya.
Pesan untuk Dunia Pendidikan
Meski telah memasuki masa purna tugas, Mbah Agung menegaskan bahwa jiwanya sebagai pendidik tidak akan pernah padam. Ia berharap para penggiat pendidikan terus menguatkan budaya literasi di sekolah dan masyarakat.
“Lemahnya mutu pendidikan di Jepara terutama pada literasi. Mari kita gali kembali dan galakkan budaya literasi agar anak-anak menjadi generasi yang memahami pentingnya literasi,” pesannya dengan mata berkaca-kaca.
Pengabdian panjang Mbah Agung menjadi teladan bahwa pendidikan tidak hanya soal mengajar, tetapi juga tentang keberanian, keikhlasan, dan cinta yang besar kepada generasi penerus bangsa.**




