Mahkotaku Tak Seindah Mahkota Raja

by Redaksi
0 Komentar 198 Pembaca

 

 

 

 

 

Oleh:
Eni Yuhaeni,S.Pd

 

Di penghujung 2019, dunia digemparkan oleh berita wabah penyakit yang memakan banyak korban dan mematikan. Semua manusia di belahan bumi  manapun dicekam ketakutan akibat penyebaran virus super cepat dan belum ada obatnya. Media cetak dan elektronik memberitakan tiada henti.

 

Penularan yang super cepat dan mematikan membuat manusia di seluruh dunia berusaha mencegah penyebarannya. Berbagai cara dilakukan agar dapat menghentikan virus tersebut. Mulai dari mengisolasi, mengurangi interaksi publik, menyemprot disinfektan dan melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) hingga melakukan Lockdown.

 

Berdasarkan pemberitaan dan pembicaraan manusia, aku merasakan sebutan virus itu, ditujukan pada diriku, memang banyak nama virus yang Allah ciptakan tapi berdasarkan ciri-ciri yang disebutkan media, itu jelas diriku. Aku sedih dan bingung mendengar pemberitaan tentang diriku, yang tidak semuanya benar, ada juga yang hoax.

 

Sejak pemberitaan yang menghujatku bertubi-tubi, aku merasakan penderitaan yang amat dalam, seakan semua mata memandangku sinis penuh kemarahan, tak sudi berjumpa denganku, apalagi menyapaku. Kemana pun aku pergi, semua membicarakan kejelekanku. Teriris hati ini, sembab dan memerah mata ini, tak ada  kata yang terucap, lidah terasa kelu.

 

Mereka mengatakan kalau aku kejam, pembunuh berdarah dingin dan tak pandang bulu. Menanggapi semua pemberitaan yang secara terang-terangan menyalahkan diriku, menyedot segenap tenaga dan  pikiranku. Aku bagai terdakwa yang tak punya hak membela diri, padahal aku hanya hamba yang lemah dan tak berdaya.

 

Aku merasa perlu mengklarifikasi dan memperkenalkan diri kepada manusia, mudah-mudahan setelah mereka mengenalku, yang super kecil dan berbahaya ini, tak ada lagi hujatan yang aku terima.

 

Siapa Aku ? Perkenalkan, aku sama seperti manusia yaitu ciptaan Allah SWT, namaku Corona 19. Corona artinya Mahkota, 19 adalah tahun pertama kali aku muncul dan menghebohkan seluruh jagat  raya.

 

Nama lengkapku adalah Coronavirus disease disingkat Covid-19.  Mengapa mahkota? Karena bentukku super kecil, bulat seperti bola tapi ada hiasannya seperti mahkota.

 

Kata orang aku lahir di pasar hewan, tepatnya di Kota Wuhan, Cina. Tempat dan waktu persisnya aku tidak tahu karena aku tidak memiliki Akte Kelahiran.

 

Ukuran tubuhku super kecil, tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, tetapi aku  bukan Jin. Sebenar nya aku sudah ada sejak dahulu, namun tertidur lelap dan nyaman di tubuh kelelawar, ketika tempat tinggalku diusik, aku terbangun dan menyelamatkan diri sedapat mungkin dengan cara menempel di mana saja, di benda mati, mahluk hidup, termasuk juga manusia, karena aku bersifat parasit sehingga membutuhkan inang.

 

Berapa lama aku bisa bertahan hidup? Aku dapat bertahan hidup selama beberapa hari sekitar 72 jam, tapi aku tidak tahan terhadap  sinar matahari. Jika aku masuk ke tubuh manusia aku bertahan di tenggorokan, saluran pernapasan sampai ke paru-paru, melalui tahap demi tahap.

 

Jika terjadi inveksi paru-paru (pneumonia) maka manusia akan kesulitan bernapas dan butuh alat bantu pernapasan. Kesulitan bernapas inilah yang menyebabkan kematian. Kerusakan akibat terpapar diriku adalah organ saluran pernapasan seperti batang tenggorokan, tenggorokan, alveolus hingga paru-paru, selain itu bisa juga menyebabkan kerusakan hati, jantung, ginjal bahkan sampai ke otak, hingga ajal menjemput.

 

Mengapa aku mencari inang? Sama seperti manusia membutuhkan tempat tinggal agar dapat bertahan hidup dan berkembang biak. Aku juga bersifat zoonasis artinya dapat ditularkan antara manusia dengan hewan. Salahkah aku ingin bertahan hidup?  Siapapun pasti berusaha untuk dapat mempertahankan hidup, begitu juga diriku yang super mungil ini.

 

Bagaimana aku bisa menyebar begitu cepat, padahal aku tidak berkaki atau bersayap? Aku hanya bisa menempel, dan dapat berkembang biak sangat cepat. Aku bisa menyebar karena ulah manusia, contohnya bersin (bangkis). Otomatis aku terlontar keluar dan melompat mencari tempat untuk menempel, di  telapak tangan atau dimana saja. Jadi aku berpindah mengikuti kemana langkah manusia. Bahkan aku bisa melewati laut dan langit yang tinggi. Aku bisa menyebar ke seluruh dunia dengan menempel dan perpindah. Aku pertama kali terdeteksi di Indonesia di kota Depok.

 

Bagaimana jeritan hatiku ?  Aku yang sedang tertidur pulas di peraduanku yaitu tubuh kelelawar dipaksa keluar. Di dalam kekagetan, aku berusaha untuk menyelamatkan diri sebisa mungkin, segera menempel pada apa saja, yang penting selamat.

 

Mengapa manusia tega mengambil peraduanku? Apa kesalahan ku?  Dan kini mereka membenci dan menghujatku ? Itulah pertanyaan yang ada dalam hatiku. Apakah kalian menyangka aku senang dengan penyebaran ke penjuru dunia ? Aku bingung kemana lagi mencari tempat yang aman. Aku lelah dan takut, mengikuti kemana manusia melangkah, bayangkan asalku dari kota kecil sekarang aku  sudah keliling dunia, tapi bukan traveling. Sepanjang  perjalanan selalu ada teror, banyak yang mengancam jiwaku, ditambah pemberitaan yang memojokkan dengan menyebutku sang pembunuh berdarah dingin.  Sebutan ini  yang membuat seluruh manusia ketakutan.

 

Aku yang mungil, lemah tak berdaya, tak bisa membela diri, terpuruk dalam  kesedihan. Air mataku mengalir deras karena ulah dan keserakahan manusia, aku menjadi sengsara, menderita lahir dan batin. Peraduanku hilang, nyawapun terancam. Aku dikejar bak seorang koruptor, nyawaku diincar sang eksekutor yang bernama disinfektan, di manapun aku berada, situasi selalu mencekam, seakan tak ada tempat lagi untuk hidup di muka bumi ini. Aku merasa was- was dan terancam, demikian juga manusia. Aku merasa terancam jika berada di luar tubuh manusia, sebalikanya manusia merasa terancam jika aku berada di dalam tubuhnya atau inang

 

Aku hanya mahluk lemah,  apapun yang aku lakukan pasti dianggap salah dan  tak berguna. Bernahkah aku tidak berguna? Seharusnya manusia menyadari bahwa  apapun yang diciptakan Allah SWT tidak ada yang sia-sia. Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu dan pasti ada hikmah dibalik peristiwa ini.

 

Si Corona dengan umat manusia. Mengapa pertemuan Corona dengan manusia bisa terjadi ? Semua Sudah Allah atur. Kehadiranku  tidak  bermaksud memerangi manusia, aku hanya ingin mencari inang karena aku bersifat parasit. Sedapatnya, dan sekenanya,aku tidak bisa memilih. Andai aku bisa memilih aku pasti memilih pulang ke peraduanku. Aku juga akan memilih siapa yang akan aku jadikan korban. Walau pada  prakteknya, aku atau manusia yang selamat atau bisa juga keduanya meninggal. Percayalah bahwa  aku dan manusia sama-sama takut mati.

Mengapa manusia takut kepadaku ? Padahal manusia adalah mahluk yang paling mulia dan memiliki banyak kelebihan dengan akal dan pikiran. Manusia juga  mengetahui kelemahan dan kelebihanku.

 

Semoga manusia menyadari bahwa Corana Virus mahluk yang super  imut, tak berdaya dan  kasad mata, mampu porak poranda tatanan yang ada karena tingkat penularan dua puluh kali lipat dibandingkan Sars. Kok  bisa? Dari mana kekuatan itu?  Kekuatan yang aku miliki dalam menular dan merusak organ pernapasan sangat dasyat, itu karena Allah SWT, Sang Pemilik seluruh alam raya ini. Masihkah manusia sombong, serakah dan kufur nikmat?

 

Bagaimana cara mencegah aku (virus Corona) masuk ke tubuh manusia ?  Manusia  harus menghindari kerumunan, keramaian, dan kumpul – kumpul, dengan cara jangan keluar rumah kecuali terpaksa, gunakan masker jika beraktivitas, rutin cuci tangan dengan sabun atau cairan pembunuh kuman, tutup mulut dan hidung saat bersin, hindari bercakap dengan orang yang sedang sakit demam atau batuk, jaga jarak, jaga kondisi badan supaya tetap fit, hati- hati dengan binatang dan laksanakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PH BS).

 

Mengapa hal tersebut dilakukan? Karena itu adalah kelemahanku. Aku tidak akan kemana- mana jika manusia tidak berkumpul di keramaian karena tidak ada manusia yang membawa aku. Aku akan terkurung dalam tubuh manusia jika semua mulut tertutup masker. Aku akan mati atau hanyut karena sabun dan air mengalir jika manusia rajin mencuci tangan. Aku  tidak dapat melawan anti bodi manusia yang tubuhnya  fit dan yang terakhir aku juga tidak bisa lama- lama tinggal di lingkungan yang bersih dan sehat. Jika semua manusia melakukan hal tersebut  perlahan namun pasti ,aku akan hilang  dengan sendirinya karena mata rantai penyebaranku diputus.Tetap waspada karena aku akan tetap ada dari pandemi menjadi endemi. Pesanku untuk  Orang Dalam Pemantauan ( ODP)  dan Pasien Dalam Perawatan ( PDP)  jangan menularkan kepada orang lain, lakukan hal berikut mengisolasi diri, periksa ke dokter, gunakan masker dan sarung tangan, tutuplah mulut jika bersin, perbanyak minum air putih, gunakan peralatan makan, mandi,tidur dan lain – lain  terpisah.Pemberian vaksin juga merupakan langkah pencegahan dan pemenuhan kekebalan tubuh . . Jika kamu bersabar, tawakal  dan dapat melawanku pasti kamu akan sembuh. Cuma ada dua kata  sembuh, atau meninggal . Dalam keterpurukan ini  hanya bisa berserah diri menerima dengan ikhlas dan sabar karena semua ini  atas kehendak Allah SWT,  pasti ada maksud dan tujuan serta  kebaikan yang banyak di balik peristiwa ini.

 

Apa hikmah dari kejadian  wabah pandemi covid 19 ?  Pandemi Covid 19 pelakunya adalah virus corona  mahluk Tuhan yang super kecil dan tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, tapi mampu mengemparkan seluruh dunia  karena penyebaran dan penularannya yang super cepat. Pertama membuktikan bahwa manusia itu lemah dan  tidak boleh sombong. Kedua selain mematikan  dan  belum ditemukan   obatnya, menuntut manusia untuk  akif mencari dan mengadakan penelitian hingga menemukan obatnya atau vaksin .Ketiga   angka kematian yang tinggi dan menyeluruh di   semua negara, membuktikan bahwa peralatan medis secanggih apapun tidak mampu mencegah kematian karena kematian adalah taqdir Tuhan .Keempat manusia sebagai mahluk sosial dilarang berkumpul .Betapa tidak enak ketika sifat dasar manusia saling membutuhkan , terhalang oleh keadaan yang memaksa dan menyiksa. Memaksa berpisah, berjauhan  dan  menyendiri   membuktikan bahwa silaturahim itu sangat berarti dalam pergaulan manusia sehari- hari,  Kelima  tidak bersentuhan terutama bersalaman hal ini membuktikan bahwa  dalam bergaul pria dan wanita harus memegang aturan  baik etika, adab  maupun moral .Keenam selalu menjaga kebersihan dan berperilaku hidup sehat , membuktikan  kebersihan adalah sebagian dari iman .Ini adalah pembelajaran nyata dalam kehidupan manusia.

 

Manusia itu lemah, tidak berdaya tapi sombong. Nikmat Allah begitu banyak tak terhitung  tapi lupa bersyukur. Manusia itu sok pintar, padahal masih banyak pengetahuan yang harus dipelajari. Begitu  satu nikmat dicabut ,  manusia   berkeluh kesah. Semoga dari kejadian pandemi Corona 19 menjadi pengalaman yang dapat menyadarkan, mengingatkan dan mengambil pelajaran akan Keagungan Sang Pencipta. Semoga  keadaan  kembali pulih  seperti dulu, tetap waspada dan jaga kesehatan agar tubuh tetap fit. Salam sehat untuk semua. **


Eni Yuhaeni,S.Pd (guru SDN Pondokcina 3, Depok)

Baca juga

Tinggalkan Komentar