Kisahku: Tantangan Menjadi Kepala Sekolah Penggerak di Depok

by Redaksi
1 Komentar 157 Pembaca

 

Arif Suryadi adalah seorang Kepala Sekolah SD Negeri RRI Cisalak Depok, Jawa Barat. Tahun 2024 adalah tahun kedua bagi sekolah yang ia pimpin, menerapkan Program Sekolah Penggerak (PSP Angkatan 3), dan alhamdulilah sampai saat ini program ini tetap berjalan dengan baik di sekolahnya.

Diceritakan Pak Arif, awal mula penerapan program sekolah penggerak di SDN RRI Cisalak, terasa sangat memberatkan guru-guru. Pasalnya, selain mengemban tugak pokok sebagai pendidik, saat itu bersamaan pula dengan lolosnya beberapa orang guru dalam Program Pendidikan Profesi Guru (PPG), Program Guru Penggerak dan Program Praktik Pengajar Guru Penggerak di SDN RRI Cisalak. Ini yang menjadi beban tersendiri bagi guru-guru yang tengah menjalani program-program tersebut.

Pada awalnya guru kelas 1 dan 4 yang di daftarkan menjadi guru komite pembelajar di program sekolah penggerak berkeberatan karena berbarengan dengan kegiatan mereka mengikuti program PPG.

Pak Arif pun menyadari itu, dan beliau tidak bisa memaksa mereka untuk ikut program tersebut. Syukur alhamdulillah Bu Eko Purwaningsih yang lolos guru praktik pengajar penggerak dan Bu Triyana Peni yang lolos Guru penggerak bersedia menggantikan mereka. Akhirnya kombel PSP SDN RRI Cisalak pun terbentuk.

 

Ditahap awal pelaksanaan PSP di sekolahnya, berbagai tantangan dirasakan Pak Arif. Sebab, bersama rekan guru guru yang lain dituntut mendeskripsikan program yang harus dirancang. Dengan tetap secara kontinu melaksanakan sosialisasi pada kegiatan diskusi akhir pekan di sekolahnya bersama para guru dan stakeholder lain di sekolah, membuat lokakarya penyusunan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan, membuat kegiatan komunitas belajar (kombel) di sekolah dan menyelenggarakan pelatihan-pelatihan untuk guru dari hasil kegiatan lokakarya kombel sekolah penggerak yang telah di ikuti oleh kepala sekolah dan guru kombel dengan menggunakan BOS kinerja yang diperoleh sekolah penggerak.

“Alhamdulillah, tahun pertama kegiatan PSP, semua berjalan baik. Dari awalnya mereka belum mengenal apa itu sekolah penggerak, dan seperti apa program sekolah penggerak, sampai pada akhirnya setelah mengikuti program singkronus dan asingkronus sekolah penggerak dan beberapa lokakarya luring yang diikuti secara terus menerus secara bertahap, program sekolah penggerak ini memberikan pencerahan, pembenahan, menawarkan trik dan tips baru dalam memahami hak individu peserta didik yang berbeda beda yang tetap perlu dilayani sesuai dengan kemampuannya masing masing, memberikan pengalaman belajar melalui proses, unjuk kerja, dan berbagai kegiatan yang dialami peserta didik, serta melalui kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah,” papar Arif Suryadi.

Selain itu, lanjut Arif, dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran yang fleksibel, efisien, dan esensial. Sekolah juga menyusun modul ajar sendiri, seperti melakukan asesmen awal untuk bakat dan minat yang sesuai dengan tipe belajar siswa.

“Ini penting,” tandasnya.

“Maka perlunya menyelenggarakan tes asesmen awal. Karena dengan adanya asesmen awal, guru dapat mengidentifikasi siswanya di kelas sesuai dengan karakteristik dan kemampuan mereka masing masing. Dan itu yang diterapkan disekolah  untuk melihat tipe belajar siswa,” ujar Arif.

Rekomendasi dari hasil tes tersebut, kata Arif, kemudian dibagikan kepada wali kelas. Selanjutnya, wali kelas merancang modul ajar dan kegiatan pembelajaran.

Asesmen dilakukan berdasarkan bakat dan minat. Kelas seni, olahraga, ketrampilan agama, budaya sunda, literasi, dan MIPA. Tak hanya itu, sekolah juga mengadakan penambahan jam ekstrakurikuler pengembangan bakat dan minat peserta didik di luar jam belajar intrakurikuler di sekolah, dengan melibatkan berbagai tenaga ahli dan pelatih handal dari luar dan dalam lingkungan sekolah.

Arif menyebut, guru-gurunya juga sudah melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi. Dimulai dari penyusunan modul ajar sesuai dengan hasil asesmen diagnostik, Penerapan budaya disiplin positif di sekolah, akfif mengikuti Platform Merdeka Mengajar (PMM), dan melaksanakan Kegiatan Gelar Karya atau Panen Raya di sekolah dari hasil implementasi kegiatan P5, disesuaikan tema yang dipilih oleh siswa dan guru guru di sekolah yang melibatkan peserta didik dan orang tua.

“Hasilnya, mereka sangat antusias mengikuti proses modul P5 yang telah di sepakati untuk di laksanakan dengan metode full blok selama 20 hari,”

Mengenai pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolahnya, Pak Arif mengatakan, tahun lalu sekolahnya mengambil tema Gaya Hidup Berkelanjutan.

“Dan  di tahun 2024 ini, untuk semester awal, kami mengangkat tema berkebhinekaan global,” kata Arif Suryadi.

Sebagai kepala sekolah, Pak Arif selalu berupaya mendampingi guru, termasuk berkaitan dengan pembelajaran paradigma baru dan pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Sarana dan prasarana, digitalisasi sekolah juga terus dipenuhi.

“Alhamdulillah saat ini kami sudah memiliki anyboard sebagai sarana presentasi dalam pelatihan, dan memasang internet skynet cooperate yang dapat di akses oleh semua kelas di sekolah,”

Di tahun 2023 kemarin, Arif Suryadi bersyukur, SDN RRI Cisalak selain mendapatkan predikat sekolah penggerak, juga berhasil menyandang predikat Sekolah Adiwiyata Nasional.

“Semua ini tidak lepas dari Kegiatan P5 yang mengambil tema Gaya Hidup Berkelanjutan,” tuturnya.

Kepala Sekolah dan guru guru Tim Adiwiyata, ujarnya, juga sudah merancang dan memilih tema yang sesuai dengan program adiwiyata di sekolah, yaitu pengolahan sampah organik dan non organik yang ada di sekolah.

“Hasilnya,  alhamdulilah peserta didik di SDN RRI Cisalak sudah terbiasa memilah sampah dan menempatkan pada tempat yang tepat. Selain pemilahan sampah organik menjadi tugas fase A dan B untuk dijadikan ecoenzym dan pupuk kompos, sedangkan sampah organik menjadi tugas fase C untuk dijadikan ecobrick dan barang barang lain yang bisa di manfaatkan,”

Kami bekerjasama dengan berbagai pihak untuk memberikan edukasi sampah organik dan non organik diantaranya, TPA Rumah Harum Depok, TIM PANASONIC CSR tentang limbah sampah, dan Kawanan Sadar Sampah tentang pemanfaatan Mijel (minyak jelantah) untuk biodiesel, selain kita juga melaksanakan kegiatan outing kelas ke TPA Rumah Harum Depok , dan Pabrik Pengolahan Plastik di daerah Pekapuran Depok.

Kami juga menampilkan hasil karya anak-anak pada kegiatan gelar karya P5 di sekolah akhir semester kemarin. Harapan kami gaya hidup berkelanjutan ini menjadi isu yang sangat penting bagi edukasi peserta didik dan masyarakat di lingkungan sekolah karena ini menentukan keberlangsungan hidup kita dalam menjaga lingkungan.

Kami juga ingin proses dan hasil karya peserta didik disaksikan dan di ikuti oleh seluruh orang tua di sekolah.

Di semester ini, Arif Suryadi menjelaskan akan mengangkat tema Berkebhinekaan Global. Dimana, pada tema ini peserta didik kita kenalkan akan keragaman adat istiadat budaya bangsa dari Sabang sampai Merauke.

Mulai dari menampilkan tarian tarian adat berbagai daerah, pakaian adat, serta masakan khas dari setiap daerah yang ada di Indonesia, dan yang paling membanggakan adalah saat gelaran karya nanti, juga akan launching dua buah buku, yaitu Kumpulan artikel para guru SDN RRI Cisalak tentang pengalaman kebhinekaan di kelasnya masing masing dan Buku Kumpulan sastra para murid yang di bukukan menjadi buku ontology karya Bersama.

Arif Suryadi akui bahwa menjadi Kepala Sekolah SD Negeri RRI Cisalak, dengan melaksanaan Program Sekolah Penggerak baginya merupakan tantangan tersendiri.

Tantangan yang ia hadapi adalah jumlah guru yang besar yakni 35 guru dengan berbagai karakter dan kemampuan yang beda-beda, namun ia bertekad untuk tetap memberikan pemahaman dan pengalaman yang sama kepada semua guru.

Salah satu tipsnya dalam mengelola dan memimpin sekolah adalah dengan membentuk Super Learning Tim, sehingga di sekolah ada 16 tim yang menangani setiap program di sekolah yang beraneka ragam.

Sebagai langkah awal, ia membuat kesepakatan dengan para guru untuk setiap hari Kamis mengadakan kegiatan Kombel di sekolah usai kegiatan KBM di kelas masing masing yang waktunya pukul 13.30 s/d 15.30 wib.

Kegiatan Kombel tersebut di maksudkan sebagai wadah bengkel kerja para guru menerima informasi tentang materi-materi sekolah penggerak dan menerima masukan dari para guru untuk program program sekolah yang akan dilakukan.

Kesempatan ini juga menjadi ajang bagi sesama guru untuk saling belajar. Misalnya, guru dengan kemampuan TIK yang kurang bisa dibantu oleh guru lain yang keahlian IT-nya lebih mumpuni.

Disampaikan juga bahwa ada 6 orang guru di SDN RRI Cisalak yang telah mengikuti program guru pembatik sampai level 3.

Arif Suryadi menyadari bahwa dirinya adalah pemimpin pembelajaran di sekolah. Untuk itu, ia selalu berusaha untuk mendampingi guru selama melaksanakan pelatihan bersama dengan pengawas. Tak hanya para guru, ia pun turut belajar.

Saya belajar bagaimana menggunakan data dan fakta yang ada untuk merancang program sekolah dan mengembangkan sekolah berdasarkan Rapor Pendidikan sesuai dengan rekomendasi dari kementerian.

Selanjutnya, apabila ada persoalan yang tidak selesai di tingkat komunitas pembelajaran di sekolah, masalah tersebut akan dibawa ke komunitas Sekolah Penggerak, di bawah bimbingan fasilitator Sekolah Penggerak BGPMP Jawa Barat, Pak Kabul Sucipto, untuk mendapatkan arahan dan masukan yang relevan terkait persoalan yang harus di pecahkan.

Dalam komunitas itu pula, para guru membahas keragaman model pembelajaran, strategi belajar, serta metode mengajar yang relevan sesuai dengan konteks materi yang akan disampaikan. Keberadaan komunitas ini dampaknya sangat jelas pada kesuksesan PSP di sekolah.

Salah satu contoh diskusi dalam komunitas pembelajaran adalah strategi membuat pembelajaran menjadi menarik, khususnya mengenai presentasi menggunakan aplikasi digital.

Sebelumnya, para guru rata-rata hanya bisa membuat bahan presentasi yang biasa saja. Lewat diskusi komunitas inilah, mereka mendapatkan pemahaman baru tentang membuat presentasi yang menarik dari guru pembatik di sekolah. Seperti cara menggunakan aplikasi canva, mengisi audio, membuat animasi, dan sebagainya. dengan perkembangan yang terjadi di sekolahnya anak-anak menjadi lebih tertarik untuk belajar.

Selama hampir dua semester ini, Pak Arif mengamati bagaimana kondisi pembelajaran di sekolahnya. Berkat Program Sekolah Penggerak, beliau mengakui bahwa kelas-kelas menjadi lebih hidup dan berwarna karena diisi dengan beragam kegiatan pembelajaran yang menarik. Guru-guru juga menjadi lebih termotivasi untuk belajar.

Para guru semakin memahami bahwa siswa pada prinsipnya memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Dengan pemahaman itu, semakin tumbuh kesadaran untuk menghadirkan kegiatan pembelajaran yang bisa mengakomodasi semua perbedaan tersebut. Para siswa senang belajar di sekolah. Semangat mereka luar biasa, apalagi ketika kegiatan proyek yang aktivitasnya banyak di luar kelas. Siswa-siswa antusias dan mampu berpendapat, mempresentasikan, menyampaikan perasaan dan ide mereka masing-masing.

Arif Suryadi berharap kegiatan sekolah penggerak ini dapat menjadi jalan membuka paradigma baru dalam mendidik putra putri bangsa yang lebih baik kedepannya. Semoga. **


(Penulis: Arif Suryadi, M.Pd , Kepala Sekolah SDN RRI Cisalak Depok)

Baca juga

Tinggalkan Komentar

1 Komentar

Anonymous 31/03/2024 - 7:16 am

kalo begitu,… Apa gunanya kuliah program pendidikan dengan gelar S.Pd ? Kampus nya tutup saja pak Mentri.

Reply