Swara Pendidikan (Bojongsari, Depok) – Di bawah tenda sederhana yang dihias nuansa islami, ratusan siswa SDN Duren Seribu 04, duduk rapi bersila, di halaman sekolah untuk peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW pada Kamis pagi (12/2/2026). Sebagian tampak antusias, sebagian lain menatap panggung kecil tempat pendongeng bersiap bercerita.
Gelak tawa dan tepuk tangan mengiringi setiap kisah yang dibawakan oleh pendongeng anak, Miss Carolina. Melalui cerita dan permainan, nilai-nilai akhlak, empati, dan kepedulian disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak.
Bagi pihak sekolah, kegiatan ini bukan sekadar seremoni keagamaan. Komite SDN Duren Seribu 04, Lukmanul Hakim mengatakan, peringatan Isra Miraj dan santunan yatim telah menjadi agenda rutin sebagai sarana pendidikan karakter.
“Kegiatan ini untuk mengedukasi siswa, menanamkan nilai keislaman sekaligus kepedulian sosial. Dan yang terpenting, kami tidak memungut iuran dari orang tua,” kata Pria yang akrab disapa Japet itu.
Dia menjelaskan seluruh pembiayaan berasal dari donatur, termasuk para orang tua siswa yang secara sukarela berpartisipasi.
“Jadi benar-benar dari donatur. Kami tidak membebani orang tua. Yang menerima santunan adalah siswa yatim di sekolah ini,” terangnya.
Sebanyak 15 siswa yatim menerima bingkisan dan santunan uang tunai. Wajah-wajah mereka terlihat sumringah saat dipanggil satu per satu ke depan panggung.
Salah satu donatur, Erwin mengatakan kegiatan ini menjadi momentum penting menjelang Ramadan 1447 Hijriah untuk mengajarkan makna sedekah kepada anak-anak.
“Konsep sedekah itu sederhana. Apa yang kita terima, tergantung apa yang kita beri. Filosofinya adalah rasa terima kasih,” ungkapnya.
Menurut Erwin, pendidikan tentang berbagi perlu dikenalkan sejak dini agar tumbuh menjadi kebiasaan.
“Sebagai orang tua, kami ingin anak-anak belajar peduli. Selain itu, di acara ini juga ada banyak kreasi seni Islam. Kreativitas anak jangan sampai terputus,” katanya.
Dari halaman sekolah kecil di Duren Seribu itu, pelajaran tentang empati dan sedekah tumbuh, bukan hanya lewat kata-kata, tetapi lewat tindakan nyata. Sebuah pembelajaran yang mungkin akan mereka ingat jauh lebih lama daripada isi buku pelajaran.
Pewarta : Dibyo
Editor : Nurjaya SP




