Haji itu Ibadah Fisik?

by Redaksi
0 Komentar 119 Pembaca

Abdul Mutolib (Camat Tapos)

Musim Haji tahun 2024 menjadi anugerah dan berkah bagi saya, mengapa demikian? Karena tak perlu menunggu lama kami bisa berangkat memenuhi panggilan Allah SWT, “Labaik Allahumma Labaik” (Aku penuhi panggilan-Mu Ya Allah).

Hal ini tentu atas kebaikan pemerintah kota Depok, atas doa yang dikabulkan dan yang pasti takdir atau panggilan Allah SWT. Keyakinan kita tidak siapapun yang bisa memberi atau mencegah ketika Allah berkehendak.

Menjadi Petugas Haji Daerah (PHD) bukanlah perkara yang gampang, ada proses yang harus ditempuh, kelengkapan administrasi, seleksi melalui CAT (Computer Assested Test), pengetahuan tentang regulasi haji, manasik haji, Istithaah kesehatan, setelahnya harus mengikuti serangkaian diklat yang diselenggarakan kementerian agama selama 10-12 hari, dari keseluruhan latihan lebih menitik beratkan pada pembinaan, pelayanan dan perlindungan kepada jamaah haji Indonesia di tanah suci.

Tagline haji tahun 2024 adalah “Haji Ramah Lansia”, sementara  tagline untuk  petugas haji adalah “Ibadah untuk bertugas bukan bertugas untuk ibadah”.

Kebanyakan dari jamaah haji Indonesia mengambil haji Tamattu, orang sering menyebutnya haji dengan senang gembira, haji Tamattu itu adalah mendahulukan umrah baru berhaji konsekwensinya harus membayar dam, menyembelih seekor kambing.

Setiap jamaah haji wajib memenuhi Istithaah terutama terkait kesehatan dan ini menjadi faktor penting dalam berhaji mengingat ibadah haji itu lebih mengandalkan kemampun pisik yang prima, selain kemampuan finansial tentunya. Tak kalah penting adalah kesabaran ribadi dan kebersamaan antar sesama jamaah.

Tanggalan keakuan, egois (ananiyah) kedepankan kebersamaan (nahniyah), kesiapan saling menolong antar jamaah. Apalagi berhaji  dilaksanakan di negeri orang, yang datang berhaji pun dari berbagai negara.

Sejak kapan kita mulai mengandalkan kemampuan fisik dalam berhaji?

Jika kita runtut mulai berangkat dari rumah menuju embarkasi, selama transit di embarkasi, terus ke bandara kemudian transit beberapa jam di bandara, setelahnya menaiki pesawat, duduk 9 jam di pesawat, sampai di Bandara Arab Saudi, lalu beberapa menit duduk di bus dan sampai di penginapan itu sudah mulai terasa betapa pentingnya kondisi fisik yang prima.

Kemudian selama menginap di Madinah (Keberangkatan gelombang 1) kurang lebih 8-9 hari, kita mulai beradaptasi dengan iklim atau temperatur di Madinah.

Suhu yang panas yang panasnya  berbeda dengan suhu di tanah air, apalagi baru saja menempuh perjalan 9 jam dari tanah air, mulai terasa perubahan yang terjadi pada diri setiap jamaah, yang lansia kelelahan, yang memiliki penyakit bawaan (Resti) mulai ada gejala penyakit yang dirasakan.

Sebagian besar jamaah juga berkeinginan memenuhi target arbain, jamaah bolak balik hotel – mesjid Nabawi, mesjid Nabawi-hotel. Ketahanan fisik mulai terasa melemah, di sisi lain ada tour city, belanja, antrian memasuki Raudhah dan aktivitas lain menyebabkan kekuatan fisik mulai menurun.

Dalam kondisi seperti ini apa yang harus dilakukan jamaah? Ada petugas kesehatan yang standby 24 jam melayani jamaah untuk melakukan cek kesehatan masing-masing.

Jamaah kudu rajin periksa tekanan darah, yang mulai batuk-batuk segera minta obat batuk dan gejala lain segera datangi petugas kesehatan atau melapor ke karom, karu atau petugas kloter agar petugas kesehatan mendatangi jamaah yang kondisi kesehatannya terganggu. Jamaah yang sehat kudu saling bantu, saling suport dan saling mengingatkan.

Ketika berada di Makah Jamaah Haji amat sangat membutuhkan kondisi fisik yang prima, karena hampir keseluruhan aktivitas di Mekah membutuhkan fisik yang baik.

Menurunkan jamaah lansia dari bus

Mengantar jamaah persiapan safari wukuf

Tidak beberapa lama tiba  di Mekah, jamaah harus melaksanakan umrah atau tawaf qudum karena dari Madinah sudah berihram dan mengambil miqat di Bir Ali.

setelahnya mondar mandir hotel-Mesjidilharam atau sebaliknya, beradu fisik dengan saudara kita yang kekar pasti mengandalkan fisik, mencari tempat shalat di Mesjidilharam, fisik pula taruhannya.

Banyak pula jamaah yang bisa melakukan umrah sunah atau tawaf sunah berkali-kali jika fisiknya baik, sebaliknya jika fisik melemah jamaah lebih memilih tinggal dan beribadah di hotel sambil menunggu datangnya waktu berhaji

Memasuki proses ibadah haji selama 5 hari yang sering disebut fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah dan Mina) disini fisik prima sangat dibutuhkan, kalaupun bagi jamaah yang kurang prima bisa dibadalkan (kecuali wukuf).

Saat jamaah berada di tenda Arafah, dimana jamaah saling berdesakan di bawah suhu panas Arafah, maka kekuatan fisik sangatlah diandalkan. Setelah itu mabid di Muzdalifah yang juga saling berdesakan pun membutuhkan kekuatsn fisik.

Berlanjut ke Mina, di sini jamaah untuk beberapa hari berada ditenda yang berjubel, dilanjutkan dengan kegiatan  melontar jumrah Aqabah, ‘Ula dan Wustha dan ditutup dengan Tawaf Ifadah, maka tak terbantahkan fisik yang primalah yang dibutuhkan jamaah.

Maka rajin periksakan kesehatan, konsumsi suplemen, minum yang cukup, dan unsur penunjang yang tak kalah  penting adalah kekuatan keyakinan kepada Allah, disertai sikap sabar, pasrah, membangun kebersamaan, kepedulian,serta saling tolong menolong di antara sesama jamaah. Unsur penunjang tersebut boleh jadi yang mengantarkan ibadah haji kita menjadi mabrur. Wallahu’alam. ***


Catatan : Abdul. Mutolib (Camat Tapos) – PHD Kota Depok

Mina, 17 Juni 2024

Baca juga

Tinggalkan Komentar