Swara Pendidikan (Sukmajaya, Depok)- Riuh tepuk tangan dan warna-warni kostum unik menyatu di halaman SD Negeri Sukmajaya 2, Kamis pagi (30/4/2026). Dari bahan sederhana yang kerap dianggap tak berguna, para siswa justru menghadirkan karya yang memikat. Plastik bekas, botol minuman, hingga kertas daur ulang berubah menjadi busana dan karya seni, menjadi cara mereka “menghidupkan” semangat Raden Ajeng Kartini di masa kini.
Gebyar Hari Kartini tahun ini mengusung tema “Mengukir Jejak Kartini melalui Seni Daur Ulang”. Bukan sekadar perayaan seremonial, kegiatan ini terasa seperti panggung ekspresi yang memberi ruang bagi siswa untuk menunjukkan kreativitas sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.
Acara dibuka dengan penampilan Palang Pintu, seni tradisional Betawi yang dibawakan siswa kelas VI. Irama silat, pantun, dan dialog khas Betawi menjadi simbol penyambutan sekaligus penanda dimulainya rangkaian kegiatan. Suasana pun perlahan berubah menjadi panggung seni anak-anak: puisi dibacakan dengan penuh penghayatan, storytelling mengalir dengan ekspresif, tarian tampil enerjik, hingga fashion show yang mencuri perhatian.
Di atas “catwalk” sederhana, para siswa melangkah percaya diri mengenakan busana hasil kreasi dari barang bekas. Ada gaun dari plastik kresek yang disusun menyerupai bunga, rompi dari botol mineral, hingga aksesori unik dari limbah kertas. Kreativitas mereka bukan hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan kuat tentang nilai guna dan kepedulian lingkungan.

Kepala SDN Sukmajaya 2, Rina Hastarita, S.Pd, menyebut kegiatan ini telah menjadi tradisi tahunan yang selalu dinantikan. Tahun ini, pelaksanaannya semakin semarak berkat dukungan komite sekolah dan koordinator kelas (korlas).
“Kegiatan ini sudah menjadi bagian dari budaya sekolah. Dukungan dari komite dan korlas sangat besar, sementara guru-guru memastikan kegiatan berjalan dengan baik,” ujarnya.
Baru satu bulan menjabat setelah dimutasi dari SDN Cimpaeun 3, Tapos, Rina melihat tema daur ulang sebagai refleksi nyata dari semangat Kartini yang relevan dengan masa kini. Bagi dia, perjuangan tidak lagi hanya soal emansipasi, tetapi juga tentang membangun generasi yang kreatif dan peduli lingkungan.
“Melalui kegiatan ini, anak-anak belajar bahwa barang bekas masih bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Ini juga menjadi pembelajaran penting tentang menjaga lingkungan,” katanya.
Lebih dari sekadar lomba dan pertunjukan, kegiatan ini menjadi ruang pembentukan karakter. Di balik tawa dan tepuk tangan, terselip nilai tentang keberanian tampil, kreativitas berpikir, hingga kepedulian terhadap sekitar.
Pewarta : Syifa dan Alya
Editor : Nurjaya Saputra






















