Bukan Cinta dari Mata Turun ke Hati

by Redaksi
0 Komentar 371 Pembaca

Azka dan Jamila adalah salah satu pasangan dari 11 pasang pengantin Tuna netra yang mengikuti pernikahan masal insan tuna netra yang diselenggarakan Yayasan Tabungan Surga

Swara Pendidikan (Bogor) – Bukan cinta dari mata turun ke hati. Tanpa mengenal paras dan fisik, tidak mengenal istilah pacaran. Azka Pauzan Sidik, S.Pd dan Jamilatul Sadiah, S.Pd   atau biasa dipanggil Azka dan Jamila adalah insan tuna netra yang secara lahir dan batin telah rela mengakhiri masa lanjang dengan melangsungkan pernikahan.

Azka dan Jamila adalah salah satu pasangan dari 11 pasang pengantin Tuna netra yang mengikuti pernikahan masal insan tuna netra yang diselenggarakan Yayasan Tabungan Surga, bertempat di graha yayasan Tabungan Surga Karadenan, Cibinong,  Rabu(28/02/23).

Genap satu bulan  terlewati mereka mengarungi bahtera rumah tangga,  Azkapun sudah kembali mengerjakan rutinitas sebagai seorang guru kelas  dari Sekolah Luar Biasa (SLB) Cahaya Qur’an.

“Saya merasa bahagia bisa berjodoh dengan Jamila, sekarang saya tinggal di asrama tidak sendiri lagi tapi sudah ada istri yang menemani,” ungkap Azka didampingi sang istri saat ditemuai Media SP dikediamannya, Jln. Mawar Asri Ciampea, Minggu ( 19/03/23).

 

Awal dunia menjadi gelap

Berbeda dengan sang Istri, Jamilatul Sa’diah merasakan dunia itu gelap sejak lahir, sementara Azka mengalami masalah mata total tidak melihat pada Februari 2015.

Saat itu Azka tinggal bersama omnya di daerah Ciawi dan kuliah di Universitas Pakuan (Unpak) Fakultas PGSD semester 8.  Ketika om pindah ke cikarang, saya harus bisa mandiri.

“ Saya dikasih jatah sama om seminggu 50ribu, karena om juga baru diterima kerja di Cikarang. Uang 50ribu tidak mencukupi untuk makan dan operasional,  yaa mau gimana  saya harus  car tambahan dengan bekerja,”ungkap Azka

Kemudian saya  cari kerja dan dapat kerja, diterima di Lembaga Survey Indonesia (LSI) , tapi jujur karena keahlian saya dikomputer, yang cepat dan menghasilkan uang dari desain grafis.

“ Saya sering dapat order, nah  dalam pengerjaannya jika banyak order, saya bisa didepan komputer sampai 6 jam. Ditambah lagi waktu itu berbarengan lagi menyusun skripsi,” terang Azka

Agustus 2014 saya mulai merasakan ada masalah di mata. Karena Mata saya mudah radang dibelakang retina.  Sempat berobat ke Aini, hasilnya banyak darah dimata saya. Jadi mata saya kerendam darah.

“Waktu itu   treatmentnya kalau tidur gak boleh terlentang, harus duduk bersandar.”harunya

Terus saya coba berobat Ke RSCM, Lanjut Azka, jika mandiri bisa habis ratusan juta. Untung pake bpjs, Laser aja 3 kali dalam sebulan, sekali laser 500rb, hasil akhirnya  Mata saya harus  ditutup.

Sempat juga di operesi glaukoma, Mata sebelah kiri besar karena sarap mata terganggu.   Yaa akhirnya berobat kesana kemari takdir berkata lain, februari 2015 mata  saya sudah total tidak dapat melihat.

Semangat hidup sudah kritis, om saya coba cari-cari link untuk saya agar punya semangat hidup lagi. Bertemulah om saya dengan orang dari Bandung, Supaya saya coba masuk balai Rehabilitas Difable Wyata Guna Bandung.

“Karena ada aturan baru Wyata Guna menjadi balai, harus bisa nulis dan baca huruf braille, sementara saya gak ngerti,“ tutur Azka

Jalan hidup memang Tuhan yang menentukan, gagal masuk Wyta Guna, teman om yang dari bandung mereferensikan untuk ketemu pak Ahmad.

Akhirnya ketemu dengan pak Ahmad di ajak kesini Ciampea, Kab. Bogor, Dilatih segala macam oleh Pak Ahmad, dari mulai Membaca dan menulis huruf Braille, Baca Qur/an Braille, pijit, dll.

Azka Pauzan Sidik, S.Pd dan Jamilatul Sadiah, S.Pd

 

Saat Kuliah Di STAI Sukabumi kenal dengan Jamilatul Sa’diah

Azka bercerita, bagaimana mulanya kenal dengan Jamilatul Sadi’ah ketika dirinya sudah pindah dari Ciawi Bogor ke Sukabumi.

Awalnya tetap peran pak Ahmad sebagai ketua Pertuni Kab, Bogor menyarankan saya untuk kuliah di STAI Sukabumi setelah  otomatis di Drop Out (DO)  dari Universitas Pakuan karena sudah lebih 7 tahun  tidak kuliah.  “ngobrol-ngobrol dengan pak Ahmad dan temannya akhirnya setelah mengurus ke Unpak jadilah pindah ke Sukabumi tinggal di asrama Budi Nurani,” urainya

Saat itu,  karena baru di Sukabumi dan juga sebagai penyandang tuna netra baru. Belum tahu konsep gimana sih kuliah sendiri ke kampus, jalan sendiri, pakai tongkat. Otomatislah saya nanya sama yang sudah berpengalaman, yaa salah satunya ini yang ada di samping saya, Jamila..

Saya Kuliah memulai lagi dari semester 5, lanjut Azka, Kebetulan dengan Jamila satu almamater sama-sama kuliah di STAI. Walaupun dia juga sama sempat mandek kuliah 3 tahun karena lebih memilih kerja dulu. Tapi kita sering berkomunikasi dan akhirnya jadi teman yang bisa saling memotivasi.

“Dia juga sempat mandek kuliah, saya kasih arahan, motivasi untuk melanjutkan kembali  kuliah yang tertunda jangan sampai di Drop out  dari kampus, akhirnya dia semangat kembali untuk kuliah,” kenang Azka

Jodoh, Kematian, dan Rizki sudah digariskan Allah SWT. Begitupun pernikahan Azka dengan Jamila bukan karena ada hasrat cinta, tapi saya menikah itu jalannya karena Pak Ahmad  yang punya inisatif mensupport saya dan  melobi keluarga Jamila.

“Ya karena Pak Ahmad, saya anggap orang tua, petuahnya itu saya dengar dan saya kuatkan niat untuk menikah.  Mungkin juga sebenarnya memang pak Ahmad tahu bahwa saya akrab dengan jamila, “ imbuhnya..

 

Harapannya setelah menikah

Saya bersyukur apa yang sudah saya capai sekarang, dari gak punya semangat hidup sampai tumbuh optimis, dari lajang sekarang saya sudah punya istri, dan alhamdulillah sekarang mengajar di SLB Cahaya Qur’an, ada penghasilan dan ada tempat tinggal walaupun masih numpang ke pak Ahmad.

Kedepannya saya ingin meningkatkan ikhitiar saya,  punya usaha tambahan untuk bisa lebih mencukupi keluarga, dan punya rumah sendiri.

“Mungkin hari ini saya berdua dengan istri, besok lusa Allah mengamanahkan saya punya anak, tambah tanggungjawab dan saya sebagai kepala keluarga harus mampu jadi imam yang baik,” pungkasnya. (NJ)

Baca juga

Tinggalkan Komentar