Swara Pendidikan (Sukmajaya, Depok) – Ketua Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Sukmajaya, Kota Depok, yang juga Kepala SDN RRI Cisalak, Arif Suryadi, menyampaikan pandangannya mengenai peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025. Menurutnya, HGN merupakan momen penting bagi para pendidik untuk kembali meneguhkan komitmen dalam menjalankan tugas profesional maupun moral.
“Bagi saya pribadi, Hari Guru Nasional adalah momen refleksi mendalam, sebuah pit stop untuk kembali mengingat panggilan jiwa sebagai pendidik. Profesi guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi amanah suci untuk mencetak masa depan bangsa,” ujarnya kepada awak media Swara Pendidikan. Jumat (5/12/25).
Arif menilai, secara institusi HGN memiliki nilai strategis, khususnya bagi SDN RRI Cisalak. Ia menegaskan bahwa HGN adalah bentuk apresiasi tertinggi bagi dedikasi para guru sekaligus penguat motivasi untuk terus berinovasi.
“HGN menjadi pemicu semangat kolektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan menjadikan sekolah sebagai pusat pertumbuhan karakter serta akademik peserta didik,” katanya.
Implementasi Pembelajaran Mendalam
Terkait tema HGN 2025, “Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)”, Arif menjelaskan bahwa SDN RRI Cisalak telah mengimplementasikannya dengan mengubah pendekatan belajar.
“Kami bergeser dari transfer of knowledge menjadi construction of understanding, sehingga siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi membangun pemahamannya sendiri,” ungkapnya.
Tantangan dan Harapan bagi Guru
Arif juga menyoroti kondisi guru di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, guru saat ini berada pada persimpangan antara tantangan besar dan peluang emas.
Tantangan utama yang dihadapi meliputi percepatan teknologi digital serta beban administrasi yang dinilai masih menguras energi pengajaran.
Ia berharap pemerintah terus meningkatkan perhatian terhadap kesejahteraan guru, termasuk mutu pelatihan dan pemerataan kesempatan pengembangan karier.
“Kami berharap setiap guru terus menjadi agen perubahan yang berani keluar dari zona nyaman, menjunjung tinggi kode etik profesi, dan menjadikan setiap ruang kelas sebagai tempat yang inspiratif,” tutupnya. (Amr)




