Home / Berita Pilihan / ASIAN GAMES DAN NASIONALISME

ASIAN GAMES DAN NASIONALISME

Drs. Dadan Zulkifli, MM (Dosen Sekolah Tinggi Perikanan, Jakarta)

Swara Pendidikan.co.id – KEBERHASILAN  meraih medali emas oleh para atlit di acara Asean Games yang berlangsung di negeri ini telah membakar rasa kebangsaan kita semua. Dua sosok petarung yang memperebutkan kursi nomor satu negeri inipun lebur membaur tanpa ada rasa lain kecuali “Jayalah Indonesiaku”. Kemenangan gemilang dibeberapa cabang olahraga yang kebetulan jatuh bertepatan di bulan yang keramat yaitu bulan Agustus telah menumbuhkan rasa nasionalisme yang monumental serta telah menjadi kado termanis bagi segenap Bangsa Indonesia.

Melalui perhelatan olahraga skala dunia seperti Asian Games telah terbukti nasionalisme bangsa-bangsa terjaga apinya bahkan tersulut kobarannya. Asean games menjadi sebuah ritual nasionalisme bangsa-bangsa yang acaranya diadakan empat tahun sekali. Globalisasi di arena olahraga ini tidak sedikit pun mengarah pada pengikisan nasionalisme apalagi keinginan untuk mengganti arah nasionalisme, melainkan justru memperkuatnya.

Simbol dan Ritual Kebangsaan

Perhelatan olahraga antar bangsa seperti Asean Games ini sudah menjadi ritual yang diikat oleh aneka ragam simbol kebangsaan. Setiap kompetisi dalam pertarungan dihiasi oleh atribut unik yang antara lain naiknya bendera negara pemenang dan berkumandangnya lagu kebangsaan yang agung. Kemenangan menjadi simbol adanya sumberdaya manusia teruji pada bangsa pemenang. Hal yang bersifat simbolis tersebut merepresentasikan kekuatan dan kejayaan suatu bangsa. Simbol-simbol itu berfungsi menumbuhkan emosi kebangsaan dalam balutan sportivitas dan ritual-ritual kebangsaan.

Upacara bendera yang menjadi ritual kebangsaan disetiap kemenangan sarat akan nilai-nilai yang berfungsi membangkitkan emosi kebangsaan. Perhelatan olahraga internasional seperti Asian Games memberikan kesempatan bagi setiap anak bangsa untuk menyadari pentingnya simbolisasi dalam menumbuhkan emosi kebangsaan. Hal yang terasa sangat jelas adalah ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan dan Sang Saka Merah Putih dikibarkan ketika atlet-atlet kita meraih medali emas.

Emosi kebangsaan yang bangkit saat Merah Putih berkibar di Asian Games hampir sama kuatnya dengan emosi kebangsaan yang bangkit di antara para pemuda pejuang saat mereka merobek bendera penjajah dan menggantikannya dengan Sang Saka Merah Putih diseluruh pelosok negeri ini, karenanya sangat penting bagi kita untuk terus memelihara simbol-simbol bangsa ini serta lebih sering mengadakan ritual-ritual kebangsaan.

Revolusi Mental

Olahraga mungkin bukan hanya urusan nasionalisme semata saat ini, ia juga sudah berubah menjadi profesi dan industri yang kapitalistik. Sehingga banyak pertanyaan muncul, benarkah perjuangan para atlet saat ini bertujuan mengejar prestasi, apakah mereka sama halnya dengan para pahlawan bangsa yang berjuang untuk negeri ini?

Sejarah memang secara terang mengungkapkan bagaimana pada awalnya pribadi-pribadi dan klub-klub di dunia dikelola secara komunal, kemudian berubah menjadi ‘Platform’ bagi merek-merek besar seperti Nike, Adidas, dan industri-industri yang bahkan tak terkait dengan dunia olahraga seperti industri penerbangan dan lain-lain.

Ketika sorak gempita  bergemuruh di setiap pertandingan yang dimenangkan yang juga bercampur haru karena Indonesia juara, adakah emosi kebangsaan juga berkobar di hati dan pikiran para atlet? Apakah emosi kebangsaan mereka juga berkobar? Keinginan dan doa kita tentu berharap semoga saja demikian, sebab pikiran pragmatis tentang bonus miliaran rupiah dan tawaran peluang lain yang menggiurkan berpotensi lebih mendominasi jiwa mereka.

Revolusi mental bagi para atlet untuk berprestasi dengan mental pejuang dan kepahlawanan perlu terus dibisikan agar mereka  tetap menjadi “Pahlawan Sejati” yang berjuang untuk kemuliaan bangsanya, tanpa pamrih. Bukan menitik beratkan tujuan mereka pada uang dan materi semata, namun demi keharuman nama bangsa. Selamat para pejuang generasi melenial……semoga kalian terus tetap jaya…”Jayalah Indonesiaku

Penulis : Drs. Dadan Zulkifli, MM (Dosen Sekolah Tinggi Perikanan, Jakarta)

Leave a Reply

Your email address will not be published.